KONFLIK
DALAM KOMUNIKASI ANTARPERSONA
A.Pengertian Konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai
suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana
salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau
membuatnya tidak berdaya.
Setiap hubungan antarpribadi
mengandung unsur-unsur konflik, pertentangan pendapat atau perbedaan
kepentingan. Konflik adalah situasi dimana tindakan salah satu pihak berakibat
menghalangi, menghambat, atau mengganggu tindakan pihak lain (Johnson, 1981).
Berbagai mitos tentang konflik
dipahami berdasarkan dua sudut pandang, yaitu tradisional maupun kontemporer.
Dalam pandangan tradisional, konflik dianggap sebagai sesuatu yang buruk yang
harus dihindari. Bahkan sering kali konflik dikaitkan dengan kemarahan,
agresivitas, pertentangan baik secara fisik maupun dengan kata-kata kasar.
Sebaliknya, pandangan kontemporer mengenai konflik didasarkan pada anggapan
bahwa konflik adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan sebagai konsekuensi
logis interaksi manusia.
B. Jenis-Jenis Konflik
Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel, terdapat lima jenis konflik
yaitu:
1. Konflik Intrapersonal
Konflik intrapersonal adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri.
Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang
tidak mungkin dipenuhi sekaligus. Ada tiga macam bentuk konflik intrapersonal
yaitu :
- Konflik
pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan
yang sama-sama menarik.
- Konflik pendekatan –
penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama
menyulitkan.
- Konflik penghindaran-penghindaran,
contohnya orang yang dihadapkan pada satu hal yang mempunyai nilai positif
dan negatif sekaligus.
2. Konflik Interpersonal
Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain
karena pertentangan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara
dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain.
3. Konflik antar individu dan kelompok
Hal ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi
tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh
kelompok kerja mereka.
Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat dihukum oleh
kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktivitas
kelompok dimana ia berada.
4. Konflik antara kelompok
Yang dimaksud disini adalah konflik antara kelompok dalam organisasi yang
sama. Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam
organisasi-organisasi. Konflik antar lini dan staf merupakan merupakan contoh
konflik antar kelompok.
5. Konflik antara organisasi
Konflik jenis ini biasanya disebut dengan persaingan. Namun berdasar
pengalaman, konflik ini ternyata menyebabkan timbulnya pengembangan
produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga lebih rendah dan
pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
C. Faktor Penyebab Konflik
Ada beberapa yang dapat menimbulkan terjadinya konflik dalam suatu hubungan
antar pribadi. Beberapa penyebab tersebut antara lain :
1.
Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki
pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan
pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat
menjadi faktor penyebab konflik, sebab dalam menjalani hubungan, seseorang
tidak selalu sejalan dengan orang lain.
Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, perasaan
setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik,
tetapi ada pula yang merasa terhibur.
2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi
yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan
pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya
akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
3. Perbedaan kepentingan antara individu.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang
berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang
memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal
yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.
D. Nilai-nilai
Positif Konflik
Dalam pembelajaran, apabila
terjadi konflik, maka pengelolaan konflik secara positif akan memberikan
manfaat bagi Guru, juga peserta didik. Mengenai pengelolaan konflik secara baik
sehingga memberikan manfaat, dapat dikemukakan sebagai berikut (Johnson, 1981):
1.
Konflik dapat
menjadikan kita sadar bahwa ada persoalan yang perlu dipecahkan dalam hubungan kita dengan orang lain.
2.
Konflik dapat
menyadarkan dan mendorong kita untuk melakukan perubahan-perubahan dalam diri
kita.
3.
Konflik dapat
menumbuhkan dorongan dalam diri kita untuk memecahkan persoalan yang selama ini
tidak jelas kita sadari atau kita biarkan tidak muncul ke permukaan.
4.
Konflik dapat menjadikan hidup seseorang lebih
menarik.
5.
Perbedaan
pendapat akan membimbing ke arah tercapainya keputusan-keputusan bersama yang
lebih matang dan bermutu.
6.
Konflik dapat menghilangkan
ketegangan-ketegangan kecil yang sering kita alami dalam hubungan kita dengan
seseorang.
7.
Konflik dapat juga menjadikan kita
sadar tentang siapa atau macam apa diri kita sesungguhnya,
8.
Konflik dapat juga menjadi sumber
hiburan.
9.
Konflikdapat mempererat dan memperkaya
hubungan.
Beberapa ilustrasi konflik yang
mungkin terjadi pada suasana pembelajaran dan pengelolaannya (terutama oleh
guru sebagai pengelola kelas) sehingga menjadi bermanfaat:
·
Konflik dapat menjadikan kita sadar bahwa ada
persoalan yang perlu dipecahkan dalam hubungan kita dengan orang lain. Misalnya
kalau anda ingin menonton film horror tapi kekasih anda ingin menonton film
drama, mungkin hal itu menandakan adanya perbedaan selera diantara kalian
berdua yang perlu mendapat perhatian.
·
Konflik dapat menyadarkan dan mendorong kita
untuk melakukan perubahan-perubahan dalam diri kita. Kekasih anda marah karena
anda lupa menjemputnya jalan-jalan, sebaiknya anda sungguh-sungguh mulai
belajar mengatur waktu dan membuat catatan kegiatan dengan cermat.
·
Konflik dapat menumbuhkan dorongan dalam diri
kita untuk memecahkan persoalan yang selama ini tidak jelas kita sadari atau
kita biarkan tidak muncul ke permukaan. Konflik dengan tetangga sebelah karena
merasa terganggu oleh suara tape recorder yang disetel keras-keras
mendorong kita untuk menyampaikan keberatan kita terhadap kebiasaannya membawa
teman-teman dan mengobrol dengan suara keras hampir setiap malam mulai dari
gelap hingga menjelang subuh.
·
Konflik dapat menjadikan hidup seseorang lebih
menarik. Perbedaan pendapat dengan seorang teman tentang suatu hal dapat
menimbulkan perdebatan yang memaksa kita lebih mendalami dan memahami pokok hal
tersebut, selain menjadikan hubungan kita tidak membosankan. Perbedaan pendapat
akan membimbing ke arah tercapainya keputusan-keputusan bersama yang lebih
matang dan bermutu. Dua kekasih yang bersitegang memilih restoran mana yang
akan dijadikan tempat makan malam mereka, akhirnya memutuskan untuk memasak di
rumah, menikmati masakan yang dibuat dengan kebersamaan sambil menonton televisi.
·
Konflik dapat menghilangkan
ketegangan-ketegangan kecil yang sering kita alami dalam hubungan kita dengan
seseorang. Sesudah pertengkaran mulut yang cukup dahsyat, seorang
sekretaris akhirnya merasa terbebas dari kejengkelannya pada salah
seorang koleganya yang suka sekali meminjam atau meminta peralatan dan
perlengkapan tulis-menulis dari mejanya. Sesudah didamaikan oleh seorang teman
lain, teman itu berjanji untuk tidak lagi mengganggunya dan akan lebih cermat
merawat barang-barangnya.
·
Konflik juga dapat menjadikan kita sadar tentang
siapa atau macam apa diri kita sesungguhnya. Lewat pertengkaran dengan orang
lain, kita menjadi lebih sadar tentang apa yang tidak kita sukai, apa
yang membuat kita tersinggung, apa yang sangat kita hargai dan sebagainya.
·
Konflik juga dapat menjadi sumber hiburan. Kita
sengaja mencari sejenis koflik dalam berbagai bentuk permainan dan perlombaan.
Konflik dapat mempererat dan memperkaya hubungan. Hubungan yang tetap bertahan
kendati diwarnai dengan banyak konflik, justru dapat membuat kedua belah pihak
sadar bahwa hubungan mereka itu sangat berharga. Selain itu juga dapat menjadi
semakin erat, sebab bebas dari ketegangan-ketegangan dan karenanya juga
menyenangkan.
Dengan kata
lain, konflik dalam hubungan antarpribadi sesungguhnya memiliki potensi
menunjang perkembangan pribadi kita sendiri maupun perkembangan relasi kita
dengan orang lain. Namun dengan catatan kita mampu menghadapi dan memecahkan
konflik-konflik semacam itu secara konstruktif. Suatu konflik bersifat konstruktif
bila sesudah mengalaminya :
·
Hubungan kita dengan pihak lain justru menjadi
lebih erat, dalam arti lebih mudah berinteraksi dan bekerjasama.
·
Kita dan pihak lain justru lebih saling menyukai
dan saling mempercayai.
·
Kedua belah pihak sama-sama merasa puas dengan
akibat- akibat yang timbul setelah berlangsungnya konflik.
·
Kedua belah pihak makin terampil mengatasi
konflik-konflik baru yang terjadi di antara mereka.
E. Pengelolaan Konflik
Walaupun suatu
konflik juga dapat memberikan kontribusi positif dalam suatu hubungan, beberapa
kalangan memilih untuk meminimalisir terjadinya konflik. Mereka mungkin tidak
yakin dapat menyelesaikan konflik itu dengan baik, atau mungkin untuk menjaga
suatu hubungan agar tampak selalu ada hambatan, dsb. Konflik dapat dicegah atau
dikelola dengan beberapa cara antara lain :
·
Disiplin
Mempertahankan
disiplin dapat digunakan untuk mengelola dan mencegah konflik. Manajer perawat
harus mengetahui dan memahami peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi.
Jika belum jelas, mereka harus mencari bantuan untuk memahaminya.
·
Pertimbangan pengalaman dalam tahapan kehidupan
Konflik dapat
dikelola dengan mendukung perawat untuk mencapai tujuan sesuai dengan
pengalaman dan tahapan hidupnya. Misalnya; Perawat junior yang berprestasi
dapat dipromosikan untuk mengikuti pendidikan kejenjang yang lebih tinggi,
sedangkan bagi perawat senior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk
menduduki jabatan yang lebih tinggi.
·
Komunikasi
Suatu
komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang kondusif. Suatu upaya
yang dapat dilakukan untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan
komunikasi yang efektif dalam kegitan sehari-hari yang akhirnya dapat dijadikan
sebagai satu cara hidup.
·
Mendengarkan secara aktif
A.G. Lunandi
dalam Komunikasi Mengena menulis, “Saya tidak mengenal anda, maka saya
tidak tahu apakah anda bisa mendengarkan dengan sabar dan dengan penuh
perhatian atau tak sabar mendengarkan dengan kecederungan untuk memutuskan
percakapan orang.”
Mendengarkan
secara aktif merupakan hal penting untuk mengelola konflik. Orang lain yang
sedang berbicara tidak kita potong kalimatnya akan menimbulkan kesan bahwa kita
menghargainya sehingga orang tersebut merasa nyaman. Selain menghasilkan
komunikasi yang efektif, dengan mendengarkan secara aktif, kita akan
mendapatkan informasi yang benar sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang
menyebabkan konflik.
F. Peranan Konflik
Konflik
merupakan proses yang dinamis, bukannya kondisi statis. Pendekatan yang baik
untuk menggambarkan proses suatu konflik suatu konflik antara lain sebagai
berikut :
·
Antecedent Conditions or latent Conflict
Merupakan
suatu kondisi yang berpotensi menyebabkan atau mengawali suatu terjadinya
konflik.Pada kondisi seperti ini dikatakan konflik bersifat laten, yaitu
berpotensi untuk muncul, tapi dalam kenyataannya tidak terjadi.
·
Perceived Conflict
Agar
konflik dapat berlanjut, kedua belah pihak harus menyadari bahwa mereka dalam
keadaan terancam dalam batas-batas tertentu.
·
Felt Conflict
Persepsi
berkaitan erat dengan perasaan. Karena itulah jika orang merasakan adanya
perselisihan baik secara aktual maupun potensial, ketegangan, frustasi, rasa
marah, rasa takut, maupun kegusaran akan bertambah.
·
Manifest Conflict
Reaksi
yang mungkin muncul pada tahap ini; argumentasi, tindakan agresif, atau bahkan
munculnya niat baik yang menghasilkan penyelesaian masalah yang konstruktif.
·
Conflict Resolution or Suppression
Conflict
resolution atau hasil suatu konflik dapat muncul dalam berbagai cara. Kedua
belah pihak mungkin mencapai persetujuan yang mengakhiri konflik tersebut.
·
Conflict Alternatif
Ketika
konflik terselesaikan, tetap ada perasaan yang tertinggal.
Menurut
Ross (1993): Manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para
pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil
tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa
penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan,
hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif.
Stephen
P. Robbins-1974: “Managing organizational
conflict” mengemukakan bahwa perbedaan pandang antara pandangan lama
tantang konflik yang disebutnya pandangan tradisional dan pandangan baru
tentang konflik yang disebutnya pandangan interaksionis.
Minnery
(1980): Manajemen konflik merupakan proses, sama halnya dengan perencanaan kota
merupakan proses.
G. Strategi dalam
Mengatasi Konflik
Setiap orang
memiliki strateginya masing-masing dalam mengelola konflik. Strategi-strategi
ini merupakan hasil belajar, biasanya dimulai sejak masa kanak-kanak, dan akan
bekerja secara otomatis. Spiegel (1994) menjelaskan ada lima tindakan yang
dapat kita lakukan dalam penanganan konflik :
·
Berkompetisi
Pilihan
tindakan ini bisa sukses dilakukan jika situasi saat itu membutuhkan keputusan
yang cepat, kepentingan salah satu pihak lebih utama dan pilihan kita sangat
vital. Hanya perlu diperhatikan situasi menang-kalah akan terjadi disini. Pihak
yang kalah akan merasa dirugikan dan dapat menjadi konflik yang berkepanjangan.
Tindakan ini bisa dilakukan dalam hubungan atasan-bawahan, dimana atasan
menempatkan kepentingannya (kepentingan organisasi) di atas kepentingan
bawahan.
·
Menghindari konflik
Tindakan ini
dilakukan jika salah satu pihak menghindari dari situsasi tersebut secara fisik
ataupun psikologis. Sifat tindakan ini hanyalah menunda konflik yang terjadi.
Menghindari konflik bisa dilakukan jika masing-masing pihak mencoba untuk
mendinginkan suasana, membekukan konflik untuk sementara. Dampak kurang baik
bisa terjadi jika pada saat yang kurang tepat konflik meletus kembali, ditambah
lagi jika salah satu pihak menjadi stres karena merasa masih memiliki hutang
menyelesaikan persoalan tersebut.
·
Akomodasi
Yaitu jika
kita mengalah dan mengorbankan beberapa kepentingan sendiri agar pihak lain
mendapat keuntungan dari situasi konflik itu. Hal ini dilakukan jika kita
merasa bahwa kepentingan pihak lain lebih utama atau kita ingin tetap menjaga
hubungan baik dengan pihak tersebut. Pertimbangan antara kepentingan pribadi
dan hubungan baik menjadi hal yang utama di sini.
·
Kompromi
Tindakan ini
dapat dilakukan jika ke dua belah pihak merasa bahwa kedua hal tersebut
sama-sama penting dan hubungan baik menjadi yang utama. Masing-masing pihak
akan mengorbankan sebagian kepentingannya untuk mendapatkan situasi yang saling
menguntungkan.
·
Berkolaborasi
Menciptakan
situasi seri dengan saling bekerja sama. Pilihan tindakan ada pada diri kita
sendiri dengan konsekuensi dari masing-masing tindakan. Jika terjadi konflik
pada lingkungan kerja, kepentingan dan hubungan antar pribadi menjadi hal yang
harus kita pertimbangkan.
Namun biasanya
kita tidak menyadari cara bertingkah laku kita dalam situasi-situasi konflik.
Apa yang kita lakukan seolah-olah terjadi begitu saja. Maka bila kita terlibat
dalam suatu konflik dengan orang lain, ada dua hal yang harus kita
pertimbangkan :
·
Tujuan-tujuan atau kepentingan-kepentingan
pribadi kita. Tujuan-tujuan pribadi ini dapat kita rasakan sebagai hal yang
sangat penting sehingga harus kita pertahankan mati-matian, atau tidak terlalu
penting sehingga dengan mudah kita korbankan.
·
Hubungan baik dengan pihak lain. Seperti tujuan
pribadi, hubungan dengan pihak lain jug adapat kita rasakan sebagai hal yang
sangat penting atau sama sekali tidak penting.
Cara kita
bertingkah laku dalam suatu konflik dengan orang lain, akan ditentukan oleh
seberapa penting tujuan-tujuan pribadi dan hubungan dengan pihak lain kita
rasakan. Berdasarkan dua pertimbanan di atas, dapat ditemukan lima gaya dalam
mengelola konflik antarpribadi (Johnson, 1981) :
·
Gaya kura-kura
Konon, kura-kura
lebih senang menarik diri bersembunyi di balik tempurung badannya untuk
menghindari konflik. Mereka cenderung menghindar dari pokok-pokok masalah
maupun dari orang-orang yang dapat menimbulkan konflik. Mereka percaya bahwa
setiap usaha memecahkan konflik hanya akan sia-sia. Lebih mudah menarik diri,
secara fisik maupun psikologis, dari konflik daripada menghadapinya.
·
Gaya ikan hiu
Ikan hiu
senang menaklukkan lawan dengan memaksanya menerima solusi konflik yang ia
sodorkan. Baginya, tercapainya tujuan pribadi adalah yang utama, sedangkan
hubungan dengan pihak lain tidak terlalu penting. Konflik harus dipecahkan
dengan cara satu pihak menang dan pihak lainnya kalah. Watak ikan hiu adalah
selalu mencari menang dengan cara menyerang, mengunggli dan mengancam ikan-ikan
lain.
·
Gaya kancil
Seekor kancil
sangat mengutamakan hubungan, dan kurang mementingkan tujuan-tujuan pribadinya.
Ia ingin diterima dan disukai binatang lain. Ia berkeyakinan bahwa konflik
harus dihindari, demi kerukunan. Setiap konflik tidak mungkin dipecahkan tanpa
merusak hubungan. Konflik harus didamaikan, bukan dipecahkan, agar hubungan
tidak menjadi rusak.
·
Gaya rubah
Rubah senang
mencari kompromi. Baginya, baik tercapainya tujuan-tujuan pribadi maupun
hubungan baik dengan pihak lain sama-sama cukup penting. Ia mau mengorbankan
sedikit tujuan-tujuannya dan hubungannya dengan pihak lain demi tercapainya
kepentingan dan kebaikan bersama.
·
Gaya burung hantu
Burung hantu
sangat mengutamakan tujuan-tujuan pribadinya sekaligus hubungannya dengan pihak
lain. Baginya konflik merupakan masalah yang harus dicari pemecahannya.
Pemecahan itu harus sejalan dengan tujuan-tujuan pribadinya maupun lawannya.
Konflik bermanfaat meningkatkan hubungan dengan cara mengurangi ketegangan
diantara dua pihak yang berhubungan. Menghadapi konflik, burung hantu akan
selalu berusaha mencari penyelesaian yang memuaskan kedua pihak. Penyelesaian
yang juga mampu menghilangkan ketegangan serta perasaan negatif lain yang
mungkin muncul di dalam diri kedua pihak akibat konflik itu.
H.
Memperbaiki Komunikasi Antarpersona dan Manajemen Konflik
Konflik dapat berupa perselisihan (disagreement),
adanya ketegangan (the presence of
tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau
lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antara kedua belah pihak,
sampai kepada tahap di mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain
sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan
masing-masing.
Substantive conflicts merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan
kelompok, pengalokasian sumber daya dalam suatu organisasi, distribusi
kebijaksanaan dan prosedur, dan pembagian jabatan pekerjaan.
Emotional conflicts terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya,
tidak simpatik, takut dan penolakan, serta adanya pertentangan antar pribadi
(personality clashes).
Konflik organisasi (organizational conflict) adalah ketidaksesuaian
antara dua atau lebih anggota atau kelompok-kelompok organisasi, biasanya
timbul karena adanya kenyataan berbeda bagi mereka tentang pemakaian sumberdaya
yang terbatas, status, tujuan, nilai atau persepsi dan kegiatan-kegiatan.
Konflik
biasanya timbul karena tiga masalah yaitu:
- Masalah
komunikasi
- Hubungan
pribadi
- Struktur
organisasi
Suatu
konflik muncul dalam sebuah organisasi, penyebabnya selalu diidentifikasikan
sebagai komunikasi yang kurang baik. Disinilah manajer dituntut untuk memenuhi
sisi lain dari keterampilan interpersonalnya, yaitu kemampuan untuk menangani
dan menyelesaikan konflik.
Cara
untuk mengatasi konflik:
Mengatasi
dan menyelesaikan suatu konflik bukanlah suatu yang sederhana. Cepat-tidaknya
suatu konflik dapat diatasi tergantung pada kesediaan dan keterbukaan
pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan konflik, berat ringannya bobot
atau tingkat konflik tersebut serta kemampuan campur tangan (intervensi) pihak
ketiga yang turut berusaha mengatasi konflik yang muncul.
Diatasi
oleh pihak-pihak yang bersengketa:
·
Rujuk: Merupakan suatu usaha pendekatan
dan hasrat untuk kerja-sama dan menjalani hubungan yang lebih baik, demi
kepentingan bersama.
·
Persuasi: Usaha mengubah posisi pihak
lain, dengan menunjukkan kerugian yang mungkin timbul, dengan bukti faktual
serta dengan menunjukkan bahwa usul kita menguntungkan dan konsisten dengan
norma dan standar keadilan yang berlaku.
·
Tawar-menawar: Suatu penyelesaian yang
dapat diterima kedua pihak, dengan saling mempertukarkan konsesi yang dapat
diterima. Dalam cara ini dapat digunakan komunikasi tidak langsung, tanpa
mengemukakan janji secara eksplisit.
·
Pemecahan masalah terpadu: Usaha
menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran
informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur.
Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara
bersama de¬ngan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.
·
Penarikan diri: Suatu penyelesaian
masalah, yaitu salah satu atau kedua pihak menarik diri dari hubungan. Cara ini
efektif apabila dalam tugas kedua pihak tidak perlu berinteraksi dan tidak efektif
apabila tugas saling bergantung satu sama lain.
·
Pemaksaan dan penekanan: Cara ini
memaksa dan menekan pihak lain agar menyerah; akan lebih efektif bila salah
satu pihak mempunyai wewenang formal atas pihak lain. Apabila tidak terdapat
perbedaan wewenang, dapat dipergunakan ancaman atau bentuk-bentuk intimidasi
lainnya. Cara ini sering kurang efektif karena salah satu pihak hams mengalah
dan menyerah secara terpaksa.
·
Intervensi (campur tangan) pihak ketiga:
Apabila fihak yang bersengketa tidak bersedia berunding atau usaha kedua pihak menemui jalan buntu, maka pihak ketiga dapat dilibatkan dalam penyelesaian konflik.
Apabila fihak yang bersengketa tidak bersedia berunding atau usaha kedua pihak menemui jalan buntu, maka pihak ketiga dapat dilibatkan dalam penyelesaian konflik.
·
Arbitrase (arbitration): Pihak ketiga
mendengarkan keluhan kedua pihak dan berfungsi sebagai “hakim” yang mencari
pemecahan mengikat. Cara ini mungkin tidak menguntungkan kedua pihak secara
sama, tetapi dianggap lebih baik daripada terjadi muncul perilaku saling agresi
atau tindakan destruktif.
·
Penengahan (mediation): Menggunakan
mediator yang diundang untuk menengahi sengketa. Mediator dapat membantu
mengumpulkan fakta, menjalin komunikasi yang terputus, menjernihkan dan
memperjelas masalah serta mela-pangkan jalan untuk pemecahan masalah secara
terpadu. Efektivitas penengahan tergantung juga pada bakat dan ciri perilaku
mediator.
·
Konsultasi: Tujuannya untuk memperbaiki
hubungan antar kedua pihak serta mengembangkan kemampuan mereka sendiri untuk
menyelesaikan konflik. Konsultan tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan dan
tidak berusaha untuk menengahi. la menggunakan berbagai teknik untuk meningkatkan
persepsi dan kesadaran bahwa tingkah laku kedua pihak terganggu dan tidak
berfungsi, sehingga menghambat proses penyelesaian masalah yang menjadi pokok
sengketa.
Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam mengatasi konflik:
1. Ciptakan
sistem dan pelaksaan komunikasi yang efektif.
2. Cegahlah
konflik yang destruktif sebelum terjadi.
3. Tetapkan
peraturan dan prosedur yang baku terutama yang menyangkut hak karyawan.
4. Atasan
mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul.
5. Ciptakanlah
iklim dan suasana kerja yang harmonis.
6. Bentuklah
teamwork dan kerjasama yang baik
antarkelompok atau unit kerja.
7. Semua
pihak hendaknya sadar bahwa semua unit atau eselon merupakan mata rantai
organisasi yang saling mendukung, jangan ada yang merasa paling hebat.
8. Bina
dan kembangkan rasa solidritas, toleransi, dan saling pengertian antar unit
atau departemen atau eselon.
G. Daftar Pustaka :
A.G. Lunandi. 1987. Komunikasi
Mengena : meningkatkan efektivitas komunikasi antar pribadi.
Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
A. Supratiknya. 1995. Komunikasi
Antarpribadi : Tinjauan Psikologis. Yogyakarta : Penerbit
Kanisius.
Astuti,
Leni. “Memperbaiki Komunikasi Antarpribadi”. leniastuti17.blogspot.com. di unduh
pada Kamis 14 November 2013
Mely. “Konflik dalam Hubungan Antarpribadi”. melyloelhabox.blogspot.com. di unduh
pada
Kamis
14 November 2013
Rimu.
“Konflik dalam Hubungan Antarpribadi”. rimuu.wordpress.com.
di unduh pada Kamis
14 November 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar