assalamua'laikum, haii bloggers jangan bosen ya buat terus belajar...
Pada paper saya kali ini saya akan menelusuri
hubungan antara media (baru) dan masyarakat. Ada empat bagian dari chapter
materi ini, bagian pertama dari tiga periode sejarah ketika hubungan antara
masyarakat dan media menjadi bahasan sentral. Sebuah deskripsi singkat dari
media baru juga disediakan di sini. Yang kedua membahas transformasi konsep
masyarakat dari awal studi sosiologis lokalitas-berorientasi yang dilakukan
dari pemeriksaan multidisiplin fasilitas komunikasi berbasis internet di mana tempat
geografisnya tidak ada. Bagian ketiga memberikan ilustrasi dari tiga jenis
studi terkait masyarakat dan media: media elektronik skala kecil, jaringan
informasi masyarakat, dan diskusi publik dan debat melalui jaringan elektronic.
Bagian keempat dan terakhir meneliti pendekatan metodologis utama dan
menunjukkan kontur agenda penelitian berorientasi pada eksplorasi lebih lanjut
dari antarmuka antara masyarakat dan media baru.
Saya akan menelaah lebih dalam
mengenai adanya komunitas virtual dalam layanan berbasis internet. Pada mata
kuliah Teknologi komunikasi yang saya ambil di semester 4 ini saya barulah
menyadari bahwa ternyata sudah banyak dan tidak asing lagi komunitas virtual dalam layanan berbasis
internet di dalam kehidupan kita selama ini, semenjak adanya internet
sebenarnya masyarakat kita sudah memulai kehidupan virtualnya di dunia maya
entah itu untuk tujuan pribadi atau kelompok, untuk bisnis, kesenangan, hobi,
eksistensi, atau kepentingan tertentu di
bidang sosial potilik dan budaya.
Seperti telah disebutkan oleh
Rheingold, mungkin lebih bertanggung jawab dari pada orang lain untuk
membangkitkan minat dan antusiasme untuk komunitas virtual. Homesteading di
perbatasan elektronik (2000) memberikan sekilas pribadi seperti apa hidup ini
di dunia bawah dunia maya. Menggambar pada bertahun-tahun pengalaman pribadi di
salah satu komunitas virtual pertama, Rheingold menguraikan berbagai kegiatan
peserta yang ikut serta sementara dalam lingkungan virtual. Orang-orang dalam
komunitas virtual menggunakan kata-kata pada dunia maya untuk bersenda gurau
dan berpendapat, terlibat dalam diskursus intelektual, melakukan perdagangan,
pertukaran pengetahuan, berbagi dukungan emosional, membuat rencana,
brainstorming, gosip, perseteruan, jatuh cinta, mencari teman dan kehilangan
mereka, bermain game, bermain-main, membuat sedikit tinggi seni dan banyak
omong kosong.
Orang-orang dalam komunitas virtual hampir
semua orang lakukan dalam kehidupan nyata, namun pada saat di dunia maya mereka
bisa saja hanya sebuah fiktif menurut saya. Hal demikian dikarenakan terkadang kita ingin
menjadi orang lain atau orang imajinatif kita yang kita pakai dalam identitas
di dunia maya. Ada juga yang memang ingin menggunakan identitas aslinya dalam
dunia maya, mungkin untuk hal-hal yang bersifat formal barulah mereka
menggunakan identitas asli dalam dunia maya misalnya untuk melamar pekerjaan
atau biografi pribadi yang penting dsb.
Menurut penelitian saya tentang
dunia maya seperti sosial media yang marak pada saat ini, tidak sedikit mereka-mereka
yang tidak menggunakan identitas asli dalam dunia virtual mereka. Namun pada
suatu komunitas di facebook misalnya tentang jual beli online ada pula yang
tidak menggunakan identitas asli, memang ada rasa kepercayaan tersendiri
terhadap mereka yang membuat suatu komunitas dalam dunia virtual karena mereka
semua memiliki kepentingan yang sama yang kemudian membentuk komunitas tersebut
walaupun dalam kehidupan real mereka belum bernah saling bertemu.
Namun apakah hal tersebut tidak
menimbulkan hal yang negatif? Saya sering melihat di televisi berita tentang
kasus penipuan yang ada di dunia maya bahkan pembunuhan yang kemudian si pelaku
susah dilacak karena kebanyakan dari mereka menggunkan identitas yang tidak
sebenarnya, disinilah kita harus lebih cerdas dalam dunia virtual yang ternyata
terkadang lebih membahayakan dibanding kehidupan nyata.
Berbeda dengan komunitas virtual
lainnya yang terbentuk karena adanya kepentingan bersama yang memang anggotanya
sudah mengenal satu sama lain dalam kehidupan nyata. Mereka akan lebih memiliki
rasa kepercayaan yang mantap satu dengan lainnya.
Salah satu fitur yang mencolok dan
bermasalah dari komunitas virtual, menurut Fernback dan Thompson (1995), adalah
pada fluiditas dari Asosiasi individu yang mungkin memiliki komunitas seperti
itu. Individu dapat menjadi aktif dan menonjol dengan cepat, meninggalkan
komunitas virtual mungkin semudah mengubah saluran pada pesawat televisi.
Fluiditas tersebut mungkin memiliki konsekuensi, mereka menunjukkan, untuk
stabilitas masyarakat virtual untuk tingkat yang lebih besar daripada kasus
untuk kehidupan nyata atau komunitas offline. Untuk alasan ini, mereka pesimis
tentang potensi komunitas online untuk berkontribusi lanskap sudah
terfragmentasi ruang publik.
Mungkin ini hanya salah satu
diskusi ringan yang dapat saya jelaskan, memang menarik sekali untuk kita bahas
bersama saat di dalam kelas, banyak pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan cerdas
dari teman-teman yang membuat saya lebih kritis dari sebelumnya dan juga membuat
saya terlihat bodoh karena saya memang harus lebih banyak membaca buku dan
referensi yang telah di berikan oleh dosen. Demikian yang dapat saya jelaskan
semoga dapat bermanfaat untuk pembaca yaa jangan sungkan untuk memberikan
kritik dan sarannya J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar