OPTIMISTIK PERSPEKTIF ADANYA AKSES INTERNET
Teknologi
baru secara umum dapat menjembatani kesenjangan antara kaya dan miskin, berkuasa
dan tak berdaya, kaya dan miskin. Sementara teknologi komunikasi baru dapat
memberikan cara baru untuk berpartisipasi dan berinteraksi, mereka juga dapat keluar
dari kesenjangan, lebih memblokir ke mereka yang sudah tidak memiliki akses .
Akses
di bidang kebijakan publik utama bagi yang mereka yang melihat Internet sebagai
layanan universal dan pengaruh yang signifikan terhadap ekuitas politik dan
ekonomi. Istilah ini biasa untuk akses yang berbeda dan penggunaan Iinternet menurut
jenis kelamin, pendapatan, ras dan budaya. Sementara di satu sisi internet dan
teknologi komunikasi dan informasi lainnya dapat meningkatkan sumber daya
manusia dengan memberikan akses yang lebih baik untuk pendidikan dan pelatihan.
Adanya
akses internet sebagai new media memang sangat memberikan keuntungan untuk kita
semua, kita dapat mengetahui dan menambah ilmu pengetahuan tentang dunia
walaupun kita tidak berkeliling dunia sekalipun. Optimisme dalam penggunaan
internet menurut saya harus lebih di kembangkan lagi di Indonesia tentunya
dalam konteks yang poitif dan lebih membangun. Seperti yang kita tau di
Indonesia sendiri masih banyak masyarakat yang blm melek media dan Internet,
hal tersebut merupakan faktor mengapa Indonesia menjadi Negara yang sulit untuk
maju.
Keterbatasan
yang ada di Indonesia rupanya menambah kemauan masyarakat untuk tidak menyentuh
Internet. Seperti misalnya orang tua yang usianya lebih dari 40 tahun,
kebanyakan dari mereka memilih untuk tidak mempelajari internet karena
terkadang mereka berfikir bahwa internet adalah mainannya anak-anak zaman
sekarang saja, sulit untuk mengerti konten-konten yang ada di Internet, tidak
bisa menggunakan komputer/laptop dan takut kalau suatu saat mengalami kesalahan
dalam menggunakan Internet dan komputer tersebut, dan juga terkadang mereka
merasa bahwa Internet bukanlah untuk kapasitas mereka.
![]() |
| haaahhhh ??? |
Sifat
tersebut sudah melekat di benak masyarakat Indonesia, tidak hanya di kalangan
Orang tua, anak muda, suku-suku di Indonesia pun masih banyak yang belum melek
Internet dan media, sulitnya memunculkan kesadaran pula bagi masyarakat
Indonesia untuk lebih berwawasan luas. Mereka merasa bahwa jika masih bisa
tidur dan makan dengan layak bagi mereka itu sudah sangat cukup. Padahal
manfaat Internet jika kita gunakan dengan baik seperti untuk mecari lowongan
pekerjaan misalnya, masyarakat Indonesia dapat mencari lowongan kerjan denga
mudah tanpa harus mencari di koran atau door
to door ke perusahaan atau kantor, dan juga lebih mudah menunjukkan CV kita
kepada perusahaan yang kita lamar tersebut secara online. Pemertintah juga
mengadakan beasiswa online yang dengan mudah dapat diikuti oleh anak-anak
Indonesia yang berprestasi dan tidak mampu untuk berpndidikan yang lebih
tinggi.
2. Tidak ada atau sulitnya akses internet. Kendala ini biasanya juga bisa berasal dari individu-individu tersebut. Contohnya, masyarakat suku Badui dalam. Mereka secara kultur masih sangat menjaga kebudayaan dan membatasi adanya akses dari teknologi baru.
3. Kurangnya user-friendly dan tidak menariknya penggunaan media baru ini. Ketertarikan dan kebutuhan masing-masing individu memang berbeda-beda. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya orang yang acuh terhadap media baru. Mereka menganggap media baru tersebut kurang menarik untuk didalami. Mungkin juga mereka berpikir kalau media tersebut tidak memberi keuntungan apapun untuk kehidupan mereka.
4. Kurang pentingnya penggunaan media baru ini bagi individu tersebut. Kendala ini sebenarnya berasal dari masing-masing individu. Mereka menganggap media baru tersebut tidak penting dan mereka sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengetahui asal usul si media baru ini.
Kendala yang memengaruhi penggunaan “new media” menurut
Van Dijk (1999) :
1. Beberapa orang, khususnya yang lanjut usia dan tidak memiliki keterampilan, yaitu perasaan yang menyatakan bahwa dirinya merasa terancam dengan adanya teknologi atau media baru. Jadi secara tidak sadar mereka sedang terintimidasioleh hadirnya media baru ini atau juga bisa desebabkan karena mempunyai pengalaman buruk pada saat pertama kali menggunakan media baru. Pengalaman buruk tersebut menjadikan seseorang merasa pesimis kalau dia bisa mengembangkan ketrampilannya dalam menggunakan media baru.
2. Tidak ada atau sulitnya akses internet. Kendala ini biasanya juga bisa berasal dari individu-individu tersebut. Contohnya, masyarakat suku Badui dalam. Mereka secara kultur masih sangat menjaga kebudayaan dan membatasi adanya akses dari teknologi baru.
3. Kurangnya user-friendly dan tidak menariknya penggunaan media baru ini. Ketertarikan dan kebutuhan masing-masing individu memang berbeda-beda. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya orang yang acuh terhadap media baru. Mereka menganggap media baru tersebut kurang menarik untuk didalami. Mungkin juga mereka berpikir kalau media tersebut tidak memberi keuntungan apapun untuk kehidupan mereka.
4. Kurang pentingnya penggunaan media baru ini bagi individu tersebut. Kendala ini sebenarnya berasal dari masing-masing individu. Mereka menganggap media baru tersebut tidak penting dan mereka sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengetahui asal usul si media baru ini.
Namun
sudah banyak juga masyarakat Indonesia yang sudah cerdas dalam memanfaatkan
Internet, mereka menggunakan Internet untuk keperluan pendidikan, bisnis,
sosial media, chat rooms, media untuk mencari informs, media untuk pertukaran
dan mengirim data, sebagai media transaksi, eksistensi diri dan juga untuk
hiburan.
Dari
penjelasan diatas memang terlihat sekali kondisi di Indonesia yang masih
memiliki kesenjangan melek Internet dari karangan masyarakat yang muda dan tua,
kaya dan miskin, berpendidikan dan tidak berpendidikan. Menurut studi UCLA
(2000) , menunjukkan kesenjangan gender yang lebar untuk wanita tua mereka
lebih dari 66 tahun ( 18,4 persen untuk perempuan dan 40,4 persen untuk
laki-laki ), dan menyimpulkan pula bahawa semakin berpendidikan tinggi maka
semakin sering pula menggunakan Internet.
Internet
memang terkadang membahayakan, namun percayalah disana banyak sekali hal-hal
yang menarik dan tentunya membantu kita untuk mnjadi manusia yang lebih maju
dan produktif, ayo kita bersama-sama menciptakan budaya melek informasi melalui
Internet sebagai new media dan tentunya jangan pula tinggalkan budaya membaca
buku agar pengetahuan yang kita dapat akan seimbang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar