Rabu, 25 Maret 2015

PERSONAL BRANDING

Make Your Name is Your Brand!

Hi people in the world.. welcome back to my blog^^

Beralih dari pembahasan yang lumayan berat di tulisanku sebelumnya, now I wanna shared about Personal Branding, apa itu Personal Branding?

Sebelumnya kalo kita mau beli air mineral di toko-toko entah apapun merknya pasti yang kita tanyakan ke penjualnya “Bu beli Aquanya dong” terus ibunya ngasih air mineral merk lain dan kita fine fine aja walaupun bukan beneran merk Aqua yang kita dapat, seolah-olah nama air mineral itu diganti dengan Aqua yang padahal itu merupakan sebuah merk. Nah..ntuk membangun sebuah brand seperti Aqua yang masih saja melekat dalam benak orang Indonesia sampai saat ini itu memang membutuhkan waktu dan proses tertentu. Seperti halnya diri kita, untuk membuat kita layak untuk diakui banyak orang atau mungkin suatu perusahaan dimana kita akan melamar pekerjaan kita harus memiliki apa itu yang disebut Personal Branding.

Personal brand bisa diartikan sebagai sebuah ciri khas diri seseorang yang dilihat atau berkaitan dengan value, skill, behaviour, atau prestasi yang dicapai oleh seseorang dengan usahanya sendiri dengan tujuan untuk memperlihatkan citra dirinya. Personal brand menurutku itu sangat penting sekali terutama untuk para calon fresh graduate yang sedang berusaha menyapa dunia kerja saat ini, ditambah adanya pasar bebas yang membuka kemungkinan siangan dalam dunia kerja tidak hanya orang Indoneseia saja melainkan dari negara lain.

 What are you waiting for guys?

Sepertinya kita tidak punya cukup waktu  yang banyak untuk menunggu atau membuang waktu untuk hal-hal yang kurang penting, ini saatnya kita untuk membangun citra diri melalui personal brand yang kita miliki. Aku yakin nih kalo remaja Indonesia saat ini punya personal brand yang kuat dan kinerja yang bagus apalagi kompeten pastinya ngga akan kalah saing dengan negara-negara maju sekalipun.

 So, How to created your personal brand?

Personal brand terdiri dari dua macam, yaitu natural personal brand dan created personal brand. Sudah jelas kalau natural personal brand itu merupakan suatu ciri khas yang sudah dimiliki tanpa harus membentuknya dengan susah payah, contohnya ada seorang penyanyi berkarakter yang memang Ia itu ditakdirkan untuk born to be singer. Sedangkan created personal brand merupakan personal brand yang dengan sengaja dibentuk, diciptakan atau dibuat untuk menciptakan kesan sesuai dengan apa yang diinginkannya (Erwin&Becky, 2014:126).

“Personal branding penting untuk dibangun, diciptakan, dan ditunjukkan. Personal branding harus inline dengan value. Harus mengenal diri terlebih dahulu (membuat analisis SWOT). Pastikan dulu seperti apa career path yang diinginkan.”-Erwin Perengkuan

Ada banyak hal yang harus kita perhatikan dalam membangun citra diri, harus memperhatikan apa saja kompentensi yang dimiliki dalam diri kita, jangan sampai kita sendiri bahkan tidak mengerti kompetensi atau kemampuan apa saja yang kita miliki dan harus kita kembangkan. Coba tanyakan terlebih dahulu deh sama diri masing-masing seberapa banyak sih kompetensi diri kita? Apa saja skill yang harus lebih dikembangkan? Kemampuan apa yang kita miliki untuk bisa meyakinkan perusahaan yang akan jadi target untuk kita bekerja? Kebanyakan untuk remaja sekarang kalau ditanya tentang kompetensi apa saja yang dimiliki pasti bingung, kalau ngga bingung ya kelamaan mikir. Nah kalau sudah seperti itu berarti kita belum mengenali diri kita masing-masing dong. Simple aja do some exercise, just write you self compentence, dan coba tulis juga kompetensi apa saja yang harus dikembangkan lebih jauh, jangan sungkan untuk menanyakan pendapat dari teman atau keluarga terdekat tentang diri kita dengan begitu mungkin akan mempermudah kita yang sedang mencoba untuk meningkatkan citra diri kita atau justru membuat kita semakin percaya diri dengan kemampuan yang sudah kita miliki. Tidak menutup kemungkinan juga untuk kita yang misalnya untuk mencoba hal-hal baru yang bisa menambah kompetensi diri kita misalnya dengan menambah ilmu mempelajari bahasa asing selain bahasa Inggris dan sebagainya.

“Personal branding bukan barang mati, it grows. Pesonal branding diperlukan oleh setiap orang untuk membuat kita menjalani hidup lebih terarah dalam hal gaya bergaul, gaya bekerja, profesionalitas dan membuat orang lain mengingat kita sehingga pekerjaan yang ditawarkan pun tepat, sehingga dalam menentukan apapun menjadi lebih mudah.” –Becky Tumewu

Citra diri kita tidak semata-mata hanya muncul dari skill dan kemampuan saja, perilaku dan kebiasaan hidup juga cerminan dari citra diri kita loh, coba saja kita lihat para presenter TV atau announcer, they are very good looking right? Bukan hanya di depan kamera saja, untuk menjadi pembawa berita memang harus memiliki pembawaan yang tenang dan rapi di kehidupan lainnya. Hal tersebut dapat kita nilai dari performanya di depan layar kamera yang selalu barhasil untuk membawakan berita yang walaupun mungkin sang announcer sendang dalam kondisi yang kurang baik atau bad mood, kebanyakan dari mereka memang dituntut untuk professional saat bekerja. Nah itu juga merupakan salah satu cara bagaimana Ia bisa bertahan untuk tetap eksis dalam pekerjaannya.

Bersyukurlah ketika telah berhasil membangun personal branding yang kita harapkan, berbahagialah jika sudah berhasil mendapatkan pekerjaan yang kita dambakan. Kemudian jangan lupa bahwa mempertahankan sesuatu yang berhasil kita dapatkan bukanlah hal yang mudah dibandingkan saat kita meraihnya, butuh keuletan dan kedisiplinan yang kuat.



tulisan ini inspirasi dari buku :
PERSONAL BRAND-INC 
rahasia untuk sukses dan bertahan di karir
Erwin Parengkuan&Becky Tumewu

Kamis, 17 April 2014

Teknologi komunikasi

IDENTITAS, POLITIK, DAN PENYIMPANGAN TEKNOLOGI TERHADAP BUDAYA

Persoalan identitas selalu menjadi pusat pekerjaan pembelajaran kebudayaan, dari percekcokannya dengan kelas Marxisme menentukan identitas ke ide penting identitas kebudayaan (dan kebudayaan ke identitas).Para Marxist menganjurkan bahwa individu adalah penentu dari posisi kelas, tapi hal ini telah menjadi perdebatan kebudayaan yang berhubungan seperti itu tidak dibutuhkan, itulah yang diucapkan mereka.Hubungan antara kelas, kebudayaan, dan identitas adalah hasil dari perjuangan; mereka tidak bisa mengalamiartikulasi berulang dengan pekerjaan.Hal ini, tidak lagiberkait.Individu dan kelompok membangun identitas mereka mendalam dan melawan struktur tak seimbang dari kekuatan.Seperti yang pernah Marx tulis dalam Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte.‘Orang-orang membuat sejarah, tetapi mereka tidak membuat itu seperti mereka menyukainya’ (kutipan dalam Freuer, 1959:321).
Pembelajaran kebudayaan juga menentang posisi pokok pada identitas.Identitas agaknya adalah produk hubungan sosial dan pengalaman. Mengikuti Williams (1958/1989) dalam ‘Kebudayaan adalah Biasa’, identitas terbentuk dalam hubungan diantara tradisi dan warisan dan keseluruhan carahidup, itulah dalam kehidupan dari warisan dan negosiasi dari tantangan itu pengalaman berkembang menjadi warisan tersebut. Dari hal ini kita bisa mengidentifikasi dua problematika dari lapangan pembelajaran kebudayaan.Pertama adalah pertanyaan dari identitas; bagaimana identitas terbentuk?Kedua adalah pertanyaan dari reproduksi; Bagaimana hubungan sosial dan kesenjangan sosial terutama direproduksi?Apa peran praktek-praktek budaya dalam reproduksi hubungan sosial?
Teknologi menyela perannya dalam problematika ini dalam tiga cara:
1) Bagaimana teknologi konstituen identitas?
2) Bagaimana teknologi praktek budaya (bagian dari tema yang lebih luas dari esai ini)?
3)Bagaimana teknologi mereproduksi kesenjangan sosial, dengan kata lain, bagaimana teknologi politik dan bagaimana faktor dalam isu-isu kekuasaanmereka?
Meskipun kita dapat bekerja pada identitas jenis kelamin, ras dan bias kelas teknologi, sedikit kerja telah dilakukan dalam kajian budaya pendekatan teknologi dan identitas terpisah dari gagasan yang lebih Foucauldian teknologi dari diri (meskipun pekerjaan ini penting) (Foucault, 1998; Probyn, 1993).
Ketika berbicara tentang politik teknologi, setidaknya dua hal yang bisa berarti.Salah satunya adalah argumen yang lebih umum beredar di sekitar penggunaan politik teknologi.Seringkali perdebatan ini bergantung dari pandangan netral teknologi, bahwa politik suatu teknologi ditentukan oleh penggunaannya.Namun, Winner (1996) telah meyakinkan dan menyatakan bahwa kita harus mempertimbangkan bahwa pengaturan teknologi itu sendiri, sebelum penggunaan spesifik, tidak hanya mencerminkan tapi memaksakan keteraturan sosial. Contohnya sekarang: jembatan di pulau panjang yang dirancang oleh Robert Moses terlalu rendah untuk bus yang akan lewat, sehingga memotong akses ke pulau untuk orang miskin dan minoritas yang lebih cenderung menggunakan transportasi umum; kampus dirancang (dan didesain ulang) untuk mempersulit siswa untuk mengatur setelah protes mahasiswa tahun 1960-an, mesin industri mahal yang dipasang di Cyrus McCormick reaper pabrik untuk menggantikan pekerja dan memaksa keluar serikat (mesin dibawa keluar setelah serikat dikalahkan), pemanen tomat mekanik yang dikembangkan oleh University of California peneliti disukai peternakan besar di atas peternakan kecil dan memiliki dampak yang signifikan terhadap Buruh pertanian di California dan juga pada jenis tumbuhantomat, bangunan yang dirancang yang mendiskriminasi orang cacat , dan sebagainya. Teknologi-teknologi, Winner berpendapat, cara membangun ketertiban ke dunia, dan keputusan desain dapat mempengaruhi populasi selama beberapa generasi. Dalam kecanduan, ia berpendapat bahwa beberapa teknologi yang dengan sifatnya politik bahwa mereka cenderung mendukung sentralisasi atau desentralisasi, organisasi egaliter atau organisasi non-egaliter, atau cenderung represif atau membebaskan. Teladan di sini adalah energi nuklir, yang oleh sifat benar-benar berbahaya bahan yang menuntut keamanan, kontrol elit dan sentralisasi.Winner mengakui bahwa tingkat penentuan bervariasi berdasarkan kasus per kasus.Beberapa teknologi membutuhkan kondisi sosial tertentu dan pengaturan untuk bekerja (misalnya, sebuah kapal di laut dalam badai tidak dapat dijalankan melalui demokrasi partisipatif), dan beberapa teknologi yang lebih atau kurang kompatibel dengan sistem sosial yang berbeda (misalnya, energi surya berpotensi lebih demokratis daripada energi nuklir). Lain Boal (1995: 12).berpendapat bahwa semua teknologi memiliki 'nilai kemiringan', itu, 'mereka mengatur bentuk-bentuk tertentu dari kehidupan dan kesadaran, dan terhadap orang lain
Dalam menulis tentang teknologi komunikasi, Harold Innis (1951) memperkenalkan gagasan bias teknologi: bias terhadap dan imposisionalisasi  atau desentralisasi kekuasaan. Misalnya, Eric Michaels (1989), dalam sebuah esai tentang penggunaan catatan televisi Aborigin Australia yang siaran televisi adalah dengan sifatnya yang sangat terpusat (sato ke banyak penyiaran) dan rentan terhadap kontrol elit. Hal ini juga rentan terhadap penyeragaman nilai dari satu lokasi di area yang lebih luas: "bias penyiaran massa konsentrasi dan unifikasi, bias budaya Aborigin adalah Diversitas dan otonomi '(1989). Budaya Aborigin, yang menghargai waktu, lokalitas dan kekerabatan, berjalan bertentangan dengan model standar siaran yang mengancam budaya Aborigin.Ketika kita membahas bias yang kami maksud kecenderungan, ini bukan penentuan mutlak. Hal ini sangat mungkin untuk memiliki televisi demokrasi (misalnya, akses publik, stasiun lokal daya rendah, seperti yang Walpiri Aborigin kembangkan) atau radio (misalnya, stasiun radio bajak laut yang sering hanya mencakup beberapa blok), tetapi penggunaan tersebut tidak dianjurkan (dan sering ilegal).

Teknologi komunikasi elektronik secara fundamental terkait dengan industri dan modal keuangan yang upaya kontrol (lih.Beniger, 1986).Public sphareyaitu baik komunitas terbayang, atau khalayak massa, disusun untuk memastikan kepasifan umum pada bagian dari masyarakat (publik diwakili oleh orang lain dan oleh karena itu menjadi penonton terhadap demokrasi serta televisi). Stratton menulis bahwa fragmentasi media massa melalui teknologi kabelbaru, satelit, dan video yang ditambah arus global orang, teknologi, ide dan sebagainya (dijelaskan oleh Appadurai, 1996), ditambah peningkatan interaktivitas, mengakibatkan ' pergeseran kualitatif 'yang bekerja untuk merusak media massa tua (dan politik) model pusat dan pinggiran. Pergeseran ini sedang balas, dan potensi demokratisasi dibatasi, dengan pengungkapan kembali dari internet ke informasi superhighway di mana internet menjadi kendaraan pengiriman lain media massa (dengan portal seperti jaringan menggantikan yahoo). Selain itu, Stratton menulis yang menarik sering ke tali masyarakat dalam kaitannya dengan internet kembali ke pandangan sempit ideologi dan budaya spesifik tentang apa yang merupakan komunitas. Pelajaran untuk menarik dari Stratton tidak bahwa teknologi ini secara inheren salah satu cara atau yang lain, tetapi bahwa internet adalah tempat perjuangan politik di antara lereng nilai (setidaknya) teknologi informasi, lembaga kapitalistik dan budaya melalui yang dikembangkan dan dipublikasikan.
Bias politik teknologi telah sering dibahas melalui lensa gender. Karya gender dan teknologi cukup luas, termasuk bekerja pada media baru (misalnya, Balsamo, 1996; Cherny dan Weise, 1996; Consalvo dan Paasonen, 2002; Green dan Adam 2001, Stone, 1995).Teknologi yang memiliki bias gender dalam terlihat dari karya Ruth Schwartz Cowan, Kerja lainnya untuk Ibu (1983).Studi klasik ini menemukan bahwa yang disebut peralatan rumah tangga yang hemat tenaga kerja benar-benar meningkatkan jumlah waktu yang diperlukan wanita untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan memperkuat peran sosial perempuan dalam rumah tangga dan pria di tempat kerja. Laura Miller (1995) esai berpengaruh, 'perempuan dan anak pertama: gender dan pengendapan perbatasan elektronik', menggambarkan bahwa bias gender teknologi memiliki kegunaan politik. Dia berpendapat, misalnya, bahwa penggambaran dunia maya sebagai ranah yang bias terhadap, jika tidak terlalu memusuhi, perempuan melayani fungsi politik meningkatkan regulasi yang luas dan kontrol melalui internet.
Masalah serupa timbul sehubungan dengan ras dan lingkungan online. Meskipun bekerja pada bias rasial media baru tidak luas sebagaimana halnya pada jenis kelamin, masalah ini sedang ditangani di bawah frase 'kesenjangan digital', sebuah frase yang diambil oleh pemerintahan Clinton pada musim semi tahun 2000 untuk membahas kabel dari sekolah dalam kota, recervations asli Amerika, dan lain memiliki miskin '. Isu identitas online rasial telah ditangani baru saja (Kolko et al, 2000;. Nakamura, 1995, 2002;. Nelson et al, 2001). Titik awal diskusi ini adalah dugaan penghapusan ras di dunia maya (erasures menyertai gender, kelas, kemampuan, dan sebagainya). Sebuah iklan MCI berjudul 'Anthem' (dibahas dalam Kolko et al, 2000:. 15, 134, 180) menetapkan skenario utopis: 'Tidak ada ras. Tidak ada gender. Tidak ada usia. Tidak ada kelemahan.Hanya ada pikiran.Utopia? Tidak, Internet '.Meskipun kitamungkin inginuntukmasyarakat utopiadi mana, untukMartinLuther KingJr, kita menilai orangakhirnyaoleh isi darikulit mereka, sebuah dunia di manaprasangkatidakmemainkanperan dalamreaksi kita, interaksidan pertukaran, kenyataannya adalahsesuatuberbeda.Ketikakiasan'tidakrasdi dunia maya' tidak hanyadidirikan padawacanatentang Internettetapi jugadibangunke dalam arsitekturdari sistem itu sendiri(ada seringtidakbahkanperintah dalamlingkungan virtualuntuk menunjukkanras), yangpenghilanganrashanya berfungsi untuk mendukung budaya yang dominantak terucapkan: keputihan.
Anda mungkin dapat pergi online dan tidak memiliki siapa pun tahu ras atau jenis kelamin - Anda bahkan mungkin dapat mengambil potensi dunia maya untuk kerahasiaan langkah lebih lanjut dan menyamar sebagai ras atau gender yang tidak mencerminkan yang sebenarnya, offline Anda - tapi tidak tembus pandang tersebut tidak berubah-ubah dari identitas online memungkinkan Anda untuk melarikan diri identitas 'dunia nyata' Anda sepenuhnya. Akibatnya, hal ras di dunia maya justru karena kita semua yang menghabiskan waktu online sudah dibentuk oleh cara di mana ras penting offline, dan kita tidak bisa membantu tetapi membawa pengetahuan kita sendiri, pengalaman, dan nilai-nilai dengan kami ketika kami masuk. (2003: 4-5)
Keterbatasan kita untuk mendekati teknologi dalam hal kemiringan Bias atau nilai teknologi adalah bahwa, hati-hati karena mereka, account ini masih dihantui spectire determinisme teknologi, dalam masalah sosial cenderung dilihat sa teknologi 'kesalahan'. Apa yang dibutuhkan adalah sebuah pendekatan yang exorcizes hantu ini. Untuk ini, teori budaya teknologi beralih ke Latour. Karya Latour menjelaskan bagaimana efektivitas terjadi dalam proses paralel delegasi dan resep.
Untuk melakukannya bisakah menjadi jatuh ke dalam konstruksionisme sosial naif, seperti melalui teknologi hanya diwujudkan keinginan sosial.Hal ini karena teknologi naif sekali berada di tempat, mereka meresepkan perilaku kembali pada kami. Pintu dekat akan bekerja dengan cara tertentu (terlalu cepat, terlalu lambat, atau terlalu kaku) dan kami harus menyesuaikan diri dengan sifat mesin tertentu (seperti yang kita tahu mana mesin penyalinan yang digunakan dan kemacetan lebih sering, atau yang lift lebih cepat). Satu harus mampu mendorong pintu dengan sejumlah kekuatan dan kemudian menahannya dari membanting kembali. Selanjutnya, teknologi mengatur perilaku kembali pada semua mereka yang mengalaminya, bukan hanya mereka yang mengalaminya, bukan hanya mereka yang awalnya mendelegasikan tugas (misalnya, desainer, perencana kota, insinyur dan sebagainya). Mereka yang mendelegasikan dan mereka yang dilanggar atas dapat (dan sering) kelompok despirate tenang orang (Star, 1991). Dengan cara ini Latour berpendapat bahwa teknologi adalah moral. Mereka memaksakan 'benar' perilaku dan menumbuhkan kebiasaan 'baik'. Terlepas dari tangisan konstan moralis, tidak ada manusia yang relentlessy moral mesin, terutama jika itu adalah (dia, dia, mereka) sebagai "user friendly" seperti komputer saya '(1988: 301). Selain itu, teknologi mungkin diskriminatif, sehingga sulit bagi anak-anak kecil, orang tua, atau secara fisik ditantang untuk bergerak melalui pintu.



Jumat, 11 April 2014

Teknologi Komunikasi

Efek Media Dalam Pengorganisasian Kelompok Kecil
Hilzt dan Turoff (1978) diantara mereka yang untuk pertama kali menggambarkan perbedaan antara tatap muka dan interaksi yang dimediasi oleh komputer dalam hal proses sosial dan psikologis, dan untuk membahas pentingnya dari tugas media kontinjensi (kemungkinan). Hiltz dan Turoff  berpendapat bahwa kelompok-kelompok berkomunikasi melalui komputer yang memiliki akses ke sebuah jalur komunikasi yang lebih sempit daripada kelompok yang berkomunikasi secara tatap muka. Sebagai contoh, komunikasi non verbal dan paralanguage baik yang tersedia atau secara substansial berkurang dalam komunikasi melalui komputer. Dalam beberapa situasi, seperti jalur komunikasi yang sempit memungkinkan informasi untuk dikomunikasikan dengan lebih tepat dan kurangnya gangguan, dan diberikan kesempatan untuk proses pertimbangan atau penilaian yang rasional untuk mengoperasikan di dalam kelompok tersebut dengan sedikit intrusion dari pertimbangan-pertimbangan yang tidak rasional. Dalam situasi lain, konferensi dengan komputer dibutuhkan untuk dapat melengkapi media lainnya di mana komunikasi non verbal dan paralanguage tersedia. Diantara mereka juga untuk pertama kali menyajikan temuan-temuan empiris (berdasarkan pengalaman) yang mengeksplorasi dampak dari konferensi dengan komputer mengenai penyaluran distribusi diantara anggota-anggotanya, pada jumlah tugas (pekerjaan) dan komunikasi sosial, dan pada respon pengguna untuk ketersediaan dan kepuasan mereka dengan sistem (Hiltz dan lainnya, 1986).
Kieslr dan lainnya (1984) memberikan alasan teoritis seperti mengapa dan bagaimana kelompok akan berbeda ketika mereka berkomunikasi menggunakan komputer dibandingkan dengan komunikasi tatap muka. Mereka berpendapat bahwa komunikasi melalui komputer proses interaksinya tidak pribadi, dengan beberapa efek conoomitant. Individu cenderung melupakan mental interaksi mereka. Pada saat yang sama, mereka kehilangan akses ke berbagai isyarat yang memberikan umpan balik kepada anggota mengenai dampak perilaku mereka pada mitra interaksi, status mereka dan individualitas mereka. Dengan demikian, komunikasi melalui komputer menghapus informasi sosial yang cukup besar dan mehilangkan banyak umpan balik bahwa orang biasanya berkomunikasi satu sama lain secara tatap muka. Hal ini dapat memiliki pengaruh positif dan negatif pada proses interaksi, hasil tugas dan tanggapan pengguna (Sproull dan Kieslr, 1991).
Orang merasa lebih sedikit mengurangi ketika berinteraksi melalui jaringan komputer sebagai hasil dari pengurangan isyarat-isyarat sosial yang menyediakan informasi mengenai status seseorang dalam kelompok. Oleh karena itu, peserta lebih berkonsentrasi pada pesan dan kurang pada orang-orang yang terlibat dalam komunikasi. Individu merasa kurang peduli terhadap apa yang mereka katakan, kurang peduli tentang hal itu, dan kuraang khawatir tentang bagaimana hal itu akan diterima oleh mitra komunikasi mereka. Karena orang-orang berkomunikasi secara elektronik kurang menyadari perbedaan sosial, mereka merasa rasa anonimitasnya lebih besar dan kurang mendeteksi individualitas pada orang lain. Akibatnya, individu yang terlibat dalam interaksi kelompok melalui komputer cenderung;
         Jatuh lebih anonim dan kurang mendeteksi individualitas dalam mitra komunikasi.
         Berpartisipasi lebih sama (karena status rendah anggota kurang terhambat).
         Lebih fokus pada tugas dan aspek instrumental dan kurang pada aspek pribadi dan interaksi sosial (karena konteksnya depersonalized).
         Berkomunikasi lebih negatif dan pesan lebih liar (karena mereka kurang peduli dengan norma-norma kesopanan yang cenderung untuk mengatur komunikasi dalam kelompok tatap muka).
         Pengalaman lebih banyak kesulitan dalam mencapai konsensus kelompok (baik karena penghapusan banyak umpan balik interpersonal, dan karena berkurangnya perhatian dengan norma-norma sosial).
Semua efek ini telah dibuktikan secara empiris (untuk tinjauan, lihat Kiesler dan Sproull, 1992), dan akan ditinjau kembali secara lebih rinci nanti dalam bab ini.
Mc Grath dan Hollingshrad (1993, 1994), membangun pekerjaan yang dijelaskan di atas dan menerapkan untuk bekerja kelompok, menyatakan bahwa interaksi kelompok dan kinerja sangat dipengaruhi oleh jenis dan kesulitan tugas yang kelompok pertunjukan, dan bahwa mempengaruhi teknologi pada interaksi kelompok dan kinerja berinteraksi dengan jenis tugas. Mereka berhipotesis bahwa efektivitas kelompok tugas akan berbeda dengan kesesuaian antara kekayaan informasi yang dapat ditransmisikan menggunakan sistem teknologi dan persyaratan kekayaan informasi dari tugas kelompok. Namun, karena kelompok dikembangkan lebih banyak pengalaman dengan teknologi komunikasi yang diberikan, kekayaan informasi yang dapat ditularkan secara efektif melalui teknologi yang akan meningkat.
McGrath dan Hollingshead mengemukakan bahwa tugas-tugas kelompok berbeda dalam persyaratan kekayaan informasi mereka. Kekayaan informasi sebagaimana dimaksud seberapa banyak informasi yang mengandung kelebihan emosi, sikap, normatif dan arti lain, di luar denotasi kognitif harfiah dari simbol yang digunakan untuk mengungkapkan hal itu. Mereka juga mengemukakan bahwa media komunikasi berbeda dalam kekayaan informasi yang mereka dapat dan jangan sampaikan. Komunikasi tatap muka antara interpersonal melibatkan manusia adalah media terkaya, komunikasi tertulis dari antara orang asing adalah yang paling kaya. Komunikasi komputer antar anggota kelompok berpengalaman dengan teknologi ini di akhir-kekayaan bawah kontinum.
Digambarkan dari McGrath (1984) tugas tipologi, hipotesis McGrath dan Hollingshead bahwa kerja kelompok menghasilkan tugas (misalnya tugas brainstorming (mengutarakan pendapat) yang sederhana) tidak memerlukan transmisi konten evaluatif dan emosional. Akibatnya, dukungan komputer pada kelompok brainstorming mungkin lebih efektif daripada tatap muka kelompok. Di ujung lain dari kontinum, kelompok negosiasi dan pandangan menyelesaikan konflik atau kepentingan mungkin memerlukan transmisi yang kaya informasi secara maksimal, termasuk tidak hanya 'fakta', tetapi juga nilai-nilai, sikap, emosi, dll. Akibatnya, kelompok yang berinteraksi dengan face-to-face untuk melakukan tugas tersebut lebih efektif daripada kelompok yang berinteraksi melalui komputer. Di antara dua ujung kontinum adalah tugas intelektif yang memiliki jawaban yang benar atau pengambilan keputusan tugas yang tidak memiliki jawaban yang benar, dimana mungkin memerlukan beberapa tingkat perantara kekayaan informasi. Prediksi untuk menghasilkan tugas dan tugas negosiasi mendapat dukungan empiris (Gallupe et al, 1991;. Hollingshead et al, 1993;.. Valacich et al, 1994)., Tetapi mereka tidak untuk intelektif dan tugas pengambilan keputusan (Hollingshead et al, 1993; Straus dan McGrath, 1994).
McGrath dan Hollingshead (1994) juga meramalkan bahwa teknologi komunikasi dapat memberikan kekayaan informasi yang meningkat dari waktu ke waktu, bagaimana sebagai kelompok belajar dapat menanamkan tambahan emosional, sikap, normatif dan makna lainnya melalui pengalaman lanjutan.
Singkatnya, argumen teoritis terakhir dalam bagian ini menawarkan tiga perspektif terkait tentang bagaimana teknologi dapat mempengaruhi proses dan hasil kelompok. Sementara mereka berbeda dalam level kecanggihan dan kompleksitas teoritis, ketiga pendekatan teoretis untuk efek media yang didasarkan pada premis bahwa atribut teknologi media yang berbeda mempengaruhi aspek-aspek kunci dari proses interaksi. Aspek-aspek kunci yaitu termasuk ketersediaan isyarat non-verbal, potensi, potensi kontribusi anonim, kemampuan untuk berkomunikasi, perbedaan status dan kekayaan informasi dari media. Aspek-aspek kunci pada gilirannya dapat membantu atau menghambat hasil kelompok (seperti konsensus, akurasi dan kecepatan pengambilan keputusan).
Dengan demikian perspektif teoritis tentang efek media yang mengakui sedikitnya jumlah determinisme teknologi. Tidak seperti teori pilihan media, kehadiran sosial dan kekayaan media, yang dibahas dalam bagian sebelumnya, teori efek media yang dijelaskan dalam bagian ini tidak istimewa, penjelasan secara sosial dibangun untuk memahami efek media. Bagian berikut menawarkan kerangka teori yang secara eksplisit mengakui sifat sosial teknologi dan diupayakan keterkaitan tidak terpisahkan antara pilihan media dan efek media.


Sabtu, 29 Maret 2014

essay teknokom

OPTIMISTIK PERSPEKTIF ADANYA AKSES INTERNET
         
Teknologi baru secara umum dapat menjembatani kesenjangan antara kaya dan miskin, berkuasa dan tak berdaya, kaya dan miskin. Sementara teknologi komunikasi baru dapat memberikan cara baru untuk berpartisipasi dan berinteraksi, mereka juga dapat keluar dari kesenjangan, lebih memblokir ke mereka yang sudah tidak memiliki akses .
Akses di bidang kebijakan publik utama bagi yang mereka yang melihat Internet sebagai layanan universal dan pengaruh yang signifikan terhadap ekuitas politik dan ekonomi. Istilah ini biasa untuk akses yang berbeda dan penggunaan Iinternet menurut jenis kelamin, pendapatan, ras dan budaya. Sementara di satu sisi internet dan teknologi komunikasi dan informasi lainnya dapat meningkatkan sumber daya manusia dengan memberikan akses yang lebih baik untuk pendidikan dan pelatihan.
Adanya akses internet sebagai new media memang sangat memberikan keuntungan untuk kita semua, kita dapat mengetahui dan menambah ilmu pengetahuan tentang dunia walaupun kita tidak berkeliling dunia sekalipun. Optimisme dalam penggunaan internet menurut saya harus lebih di kembangkan lagi di Indonesia tentunya dalam konteks yang poitif dan lebih membangun. Seperti yang kita tau di Indonesia sendiri masih banyak masyarakat yang blm melek media dan Internet, hal tersebut merupakan faktor mengapa Indonesia menjadi Negara yang sulit untuk maju.
Keterbatasan yang ada di Indonesia rupanya menambah kemauan masyarakat untuk tidak menyentuh Internet. Seperti misalnya orang tua yang usianya lebih dari 40 tahun, kebanyakan dari mereka memilih untuk tidak mempelajari internet karena terkadang mereka berfikir bahwa internet adalah mainannya anak-anak zaman sekarang saja, sulit untuk mengerti konten-konten yang ada di Internet, tidak bisa menggunakan komputer/laptop dan takut kalau suatu saat mengalami kesalahan dalam menggunakan Internet dan komputer tersebut, dan juga terkadang mereka merasa bahwa Internet bukanlah untuk kapasitas mereka.

haaahhhh ??? 

Sifat tersebut sudah melekat di benak masyarakat Indonesia, tidak hanya di kalangan Orang tua, anak muda, suku-suku di Indonesia pun masih banyak yang belum melek Internet dan media, sulitnya memunculkan kesadaran pula bagi masyarakat Indonesia untuk lebih berwawasan luas. Mereka merasa bahwa jika masih bisa tidur dan makan dengan layak bagi mereka itu sudah sangat cukup. Padahal manfaat Internet jika kita gunakan dengan baik seperti untuk mecari lowongan pekerjaan misalnya, masyarakat Indonesia dapat mencari lowongan kerjan denga mudah tanpa harus mencari di koran atau door to door ke perusahaan atau kantor, dan juga lebih mudah menunjukkan CV kita kepada perusahaan yang kita lamar tersebut secara online. Pemertintah juga mengadakan beasiswa online yang dengan mudah dapat diikuti oleh anak-anak Indonesia yang berprestasi dan tidak mampu untuk berpndidikan yang lebih tinggi.

Kendala yang memengaruhi penggunaan “new media” menurut 

Van Dijk (1999) :

1. Beberapa orang, khususnya yang lanjut usia dan tidak memiliki keterampilan, yaitu perasaan yang menyatakan bahwa dirinya merasa terancam dengan adanya teknologi atau media baru. Jadi secara tidak sadar mereka sedang terintimidasioleh hadirnya media baru ini atau juga bisa desebabkan karena mempunyai pengalaman buruk pada saat pertama kali menggunakan media baru. Pengalaman buruk tersebut menjadikan seseorang merasa pesimis kalau dia bisa mengembangkan ketrampilannya dalam menggunakan media baru.


2. Tidak ada atau sulitnya akses internet. Kendala ini biasanya juga bisa berasal dari individu-individu tersebut. Contohnya, masyarakat suku Badui dalam. Mereka secara kultur masih sangat menjaga kebudayaan dan membatasi adanya akses dari teknologi baru.

3. Kurangnya user-friendly dan tidak menariknya penggunaan media baru ini. Ketertarikan dan kebutuhan masing-masing individu memang berbeda-beda. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya orang yang acuh terhadap media baru. Mereka menganggap media baru tersebut kurang menarik untuk didalami. Mungkin juga mereka berpikir kalau media tersebut tidak memberi keuntungan apapun untuk kehidupan mereka.

4. Kurang pentingnya penggunaan media baru ini bagi individu tersebut. Kendala ini sebenarnya berasal dari masing-masing individu. Mereka menganggap media baru tersebut tidak penting dan mereka sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengetahui asal usul si media baru ini.
Namun sudah banyak juga masyarakat Indonesia yang sudah cerdas dalam memanfaatkan Internet, mereka menggunakan Internet untuk keperluan pendidikan, bisnis, sosial media, chat rooms, media untuk mencari informs, media untuk pertukaran dan mengirim data, sebagai media transaksi, eksistensi diri dan juga untuk hiburan.
Dari penjelasan diatas memang terlihat sekali kondisi di Indonesia yang masih memiliki kesenjangan melek Internet dari karangan masyarakat yang muda dan tua, kaya dan miskin, berpendidikan dan tidak berpendidikan. Menurut studi UCLA (2000) , menunjukkan kesenjangan gender yang lebar untuk wanita tua mereka lebih dari 66 tahun ( 18,4 persen untuk perempuan dan 40,4 persen untuk laki-laki ), dan menyimpulkan pula bahawa semakin berpendidikan tinggi maka semakin sering pula menggunakan Internet.
Internet memang terkadang membahayakan, namun percayalah disana banyak sekali hal-hal yang menarik dan tentunya membantu kita untuk mnjadi manusia yang lebih maju dan produktif, ayo kita bersama-sama menciptakan budaya melek informasi melalui Internet sebagai new media dan tentunya jangan pula tinggalkan budaya membaca buku agar pengetahuan yang kita dapat akan seimbang.

            

Sabtu, 22 Maret 2014

TEKNOLOGI KOMUNIKASI (Komunitas Virtual Berbasis Internet)

assalamua'laikum, haii bloggers jangan bosen ya buat terus belajar...
Pada paper saya kali ini saya akan menelusuri hubungan antara media (baru) dan masyarakat. Ada empat bagian dari chapter materi ini, bagian pertama dari tiga periode sejarah ketika hubungan antara masyarakat dan media menjadi bahasan sentral. Sebuah deskripsi singkat dari media baru juga disediakan di sini. Yang kedua membahas transformasi konsep masyarakat dari awal studi sosiologis lokalitas-berorientasi yang dilakukan dari pemeriksaan multidisiplin fasilitas komunikasi berbasis internet di mana tempat geografisnya tidak ada. Bagian ketiga memberikan ilustrasi dari tiga jenis studi terkait masyarakat dan media: media elektronik skala kecil, jaringan informasi masyarakat, dan diskusi publik dan debat melalui jaringan elektronic. Bagian keempat dan terakhir meneliti pendekatan metodologis utama dan menunjukkan kontur agenda penelitian berorientasi pada eksplorasi lebih lanjut dari antarmuka antara masyarakat dan media baru.
Saya akan menelaah lebih dalam mengenai adanya komunitas virtual dalam layanan berbasis internet. Pada mata kuliah Teknologi komunikasi yang saya ambil di semester 4 ini saya barulah menyadari bahwa ternyata sudah banyak dan tidak asing  lagi komunitas virtual dalam layanan berbasis internet di dalam kehidupan kita selama ini, semenjak adanya internet sebenarnya masyarakat kita sudah memulai kehidupan virtualnya di dunia maya entah itu untuk tujuan pribadi atau kelompok, untuk bisnis, kesenangan, hobi, eksistensi,  atau kepentingan tertentu di bidang sosial potilik dan budaya.
Seperti telah disebutkan oleh Rheingold, mungkin lebih bertanggung jawab dari pada orang lain untuk membangkitkan minat dan antusiasme untuk komunitas virtual. Homesteading di perbatasan elektronik (2000) memberikan sekilas pribadi seperti apa hidup ini di dunia bawah dunia maya. Menggambar pada bertahun-tahun pengalaman pribadi di salah satu komunitas virtual pertama, Rheingold menguraikan berbagai kegiatan peserta yang ikut serta sementara dalam lingkungan virtual. Orang-orang dalam komunitas virtual menggunakan kata-kata pada dunia maya untuk bersenda gurau dan berpendapat, terlibat dalam diskursus intelektual, melakukan perdagangan, pertukaran pengetahuan, berbagi dukungan emosional, membuat rencana, brainstorming, gosip, perseteruan, jatuh cinta, mencari teman dan kehilangan mereka, bermain game, bermain-main, membuat sedikit tinggi seni dan banyak omong kosong.
 Orang-orang dalam komunitas virtual hampir semua orang lakukan dalam kehidupan nyata, namun pada saat di dunia maya mereka bisa saja hanya sebuah fiktif menurut saya.  Hal demikian dikarenakan terkadang kita ingin menjadi orang lain atau orang imajinatif kita yang kita pakai dalam identitas di dunia maya. Ada juga yang memang ingin menggunakan identitas aslinya dalam dunia maya, mungkin untuk hal-hal yang bersifat formal barulah mereka menggunakan identitas asli dalam dunia maya misalnya untuk melamar pekerjaan atau biografi pribadi yang penting dsb.
Menurut penelitian saya tentang dunia maya seperti sosial media yang marak pada saat ini, tidak sedikit mereka-mereka yang tidak menggunakan identitas asli dalam dunia virtual mereka. Namun pada suatu komunitas di facebook misalnya tentang jual beli online ada pula yang tidak menggunakan identitas asli, memang ada rasa kepercayaan tersendiri terhadap mereka yang membuat suatu komunitas dalam dunia virtual karena mereka semua memiliki kepentingan yang sama yang kemudian membentuk komunitas tersebut walaupun dalam kehidupan real mereka belum bernah saling bertemu.
Namun apakah hal tersebut tidak menimbulkan hal yang negatif? Saya sering melihat di televisi berita tentang kasus penipuan yang ada di dunia maya bahkan pembunuhan yang kemudian si pelaku susah dilacak karena kebanyakan dari mereka menggunkan identitas yang tidak sebenarnya, disinilah kita harus lebih cerdas dalam dunia virtual yang ternyata terkadang lebih membahayakan dibanding kehidupan nyata.
Berbeda dengan komunitas virtual lainnya yang terbentuk karena adanya kepentingan bersama yang memang anggotanya sudah mengenal satu sama lain dalam kehidupan nyata. Mereka akan lebih memiliki rasa kepercayaan yang mantap satu dengan lainnya.
Salah satu fitur yang mencolok dan bermasalah dari komunitas virtual, menurut Fernback dan Thompson (1995), adalah pada fluiditas dari Asosiasi individu yang mungkin memiliki komunitas seperti itu. Individu dapat menjadi aktif dan menonjol dengan cepat, meninggalkan komunitas virtual mungkin semudah mengubah saluran pada pesawat televisi. Fluiditas tersebut mungkin memiliki konsekuensi, mereka menunjukkan, untuk stabilitas masyarakat virtual untuk tingkat yang lebih besar daripada kasus untuk kehidupan nyata atau komunitas offline. Untuk alasan ini, mereka pesimis tentang potensi komunitas online untuk berkontribusi lanskap sudah terfragmentasi ruang publik.

Mungkin ini hanya salah satu diskusi ringan yang dapat saya jelaskan, memang menarik sekali untuk kita bahas bersama saat di dalam kelas, banyak pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan cerdas dari teman-teman yang membuat saya lebih kritis dari sebelumnya dan juga membuat saya terlihat bodoh karena saya memang harus lebih banyak membaca buku dan referensi yang telah di berikan oleh dosen. Demikian yang dapat saya jelaskan semoga dapat bermanfaat untuk pembaca yaa jangan sungkan untuk memberikan kritik dan sarannya J

Rabu, 19 Maret 2014

Calm your face and start to create relax at home

Hi.. how are you today? still busy with your activity? or mad with  your school  task too much? leave time for yourself in your spare time to pamper your face still fresh and beautiful...

May be you didn't have much time to go to the beauty center in your spere time, but don't worry you can get your relax face just at your home. Now you can start with facial,Facials not only pamper your skin, they completely relax your mind and body as well. But how many of us can afford going to the spa on a regular basis? The good news is is that you don't need to! You can reap all the benefits of a spa facial right at home with an at-home facial. 

Here's How:

  1. Get prepared: Gather your supplies so you won't need to go looking for something you need later on, which would completely ruin the mood. This includes: 2 slices of cucumber or freshly steeped tea bags, turning on relaxing music and clearing a place to relax and lie down when your mask is working.
    If you have long hair, pull your hair completely back. Use a headband to hold stray hair and bangs out of your face.
  2. Cleanse: Clean your face using your basic facial cleanser and warm water. Use circular motions with your washcloth to get a nice gentle clean. If you have eye makeup on, gently remove it with eye makeup remover. Rinse your face clean.
  3. Exfoliate: Exfoliation is the key to smooth healthy skin. Apply a nickle-size dollop of facial exfoliator to your face and gently exfoliate your skin, being careful not to get the exfoliator too close to your eyes.
    Don't forget to to pay attention your neck and chest, because these areas show skin blemishes and aging just as much as your face does.
    When you're finished exfoliating, rinse face clean.
  4. Open Pores: My favorite part of a facial is when they apply hot damp towels to my face, leaving only a small opening by my nose to breath. You can do this easily at home. Have your aromatherapy spritz handy, lie down and grab your damp hot towel.
    Put the middle of the towel on your chin and wrap the ends up and around your forehead, spreading out the sides to envelope the sides of your face. (Leave a small opening at your nose.) Spritz a couple sprays of aromatherapy spray in the air. You could also put a drop or two of essential oils on your towel for the same effect.
    Relax for a few minutes while your pores open.
  5. Apply Mask: Using a mask best suited for your skin type (see options), apply with your fingers, or if you'd like to mimic the spa, use a paint brush.
    Make sure you apply a good amount of mask to all areas of your face, neck and chest, but avoid the eyes.
    Most masks need to sit for a good 10 minutes.
  6. Treat your eyes: Lie down in a comfortable spot and place your cucumber slices or tea bags on your eyes. This is a good time to relax to your music and enjoy the moment.
    If you're lucky enough to have a partner at home, ask if he could give you a hand massage while your mask is working.
  7. RinseUsing a warm wet towel, wipe off your mask making sure you pay special attention the areas around your nose and your hair line, which are easy targets for left-behind mask.
  8. Moisturize: The final step is to apply your moisturizer. Feel free to give yourself a slight massage while applying, concentrating on your temples.

Tips:

  1. This is a perfect way to spend time with your mate. Take turns so that you can each fully pamper each other.
  2. Keep a bucket full of hot water filled with towels so you can always grab a clean steamy hot towel each time.
  3. If you don't have an aromatherapy spray, drop a few drops of essential oil into the bucket with water so that you can get the full spa experience.

What You Need

  • Cucumber slices or tea bags for your eyes
  • Towels and washcloths
  • Facial cleanser
  • Facial Exfoliator
  • Facial mask
  • Facial moisturizer
  • A relaxing place to lie down
  • Aromatherapy spray (optional)
  • Relaxing music (optional)

so, keep beauty girls.. don't let your activity make you forget to keep your body still healt :)

How To Relax Your Body

Hi guys, how are you today? still busy with your activity? or mad with your school taks too much? come on let your body relax for the time..

Here I will give you 6 ways to relax with food and drink:
FOOD AND DRINK
1. Sip Green Tea
Instead of turning purple with rage, get green with a cup of herbal tea. Green tea is a source of L-Theanine, a chemical that helps relieve anger. Boil the water, pour it out, and take a soothing sip.
2. Nosh on Chocolate
Just a square (about 1.4 ounces) of the sweet stuff can calm your nerves. Dark chocolate regulates levels of the stress hormone cortisol and stabilizes metabolism.

3. Slurp Some Honey
Replace stress with sweetness and try a spoonful of honey. Besides being a natural skin moisturizer and antibiotic, honey also provides compounds that reduce inflammation in the brain, meaning it fights depression and anxiety.
4. Bite Into a Mango
Take a tropical vacation without leaving the desk chair. Use a five-minute break to peel, slice, and bite into a juicy mango, which packs a compound called linalool that helps lower stress levels. Don’t fret about the juice dripping down your chin — the stress relief is worth the mess.
5. Chew Gum
Minty, fruity, or bubble-gum flavor, a stick of gum is a surprisingly quick and easy way to beat stress. Just a few minutes of chewing can actually reduce anxiety and lower cortisol levels.
6. Munch a Crunchy Snack
Sometimes there’s nothing more satisfying than munching away on a candy barwhen we’re stressed — one study found stressed adults craved crunchy and salty snacks more than usual. But that salty crunch doesn’t have to be so sugary — a handful of trail mix or a bag of celery sticks will work just as well.
so, keep your body's healt guys..